FAKTAHUKUMNEWS, Tangerang – Satu Kisah inspiratif yang ramai diperbincangkan di media sosial menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya cara pandang dalam menjalani kehidupan. Dikisahkan, seorang ayah sebelum wafat meninggalkan dua pesan kepada kedua anaknya. Pertama, jangan pernah menagih piutang kepada siapa pun. Kedua, jangan biarkan tubuh terkena sinar matahari secara langsung.
Lima tahun berselang, sang ibu mendapati nasib kedua anaknya sangat berbeda. Anak sulung mengalami kebangkrutan karena memahami pesan ayah secara harfiah. Ia memberikan utang kepada banyak orang tanpa pernah menagihnya hingga modal usahanya habis. Bahkan, ia selalu menggunakan taksi agar tidak terkena sinar matahari sehingga biaya hidupnya semakin besar.
Berbeda dengan sang adik. Ia memaknai pesan ayah dengan penuh kebijaksanaan. Menurutnya, agar tidak perlu menagih utang, lebih baik tidak memberikan pinjaman yang berpotensi menjadi piutang, melainkan membantu sesama melalui sedekah sesuai kemampuan. Sedangkan larangan terkena sinar matahari ia pahami dengan mengatur waktu bekerja lebih pagi dan pulang setelah matahari terbenam. Hasilnya, waktu operasional usahanya lebih panjang, pelanggan bertambah, dan usahanya berkembang pesat.
Menanggapi kisah tersebut, Ustadz Asep Syahrudin, S.Pd.I., Ulama Muda dan Pendidik Agama Islam, mengatakan bahwa Islam mengajarkan umatnya untuk memahami ilmu, nasihat, maupun wasiat dengan hikmah, bukan hanya secara tekstual.
“Nasihat orang tua adalah amanah yang mengandung hikmah. Jangan hanya mendengar kalimatnya, tetapi pahami maksud dan tujuan yang terkandung di dalamnya. Ilmu yang dipahami dengan benar akan melahirkan keputusan yang benar pula,” ujar Ustadz Asep Syahrudin. Rabu, (22/7/26)
Ia kemudian mengutip sabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya setiap amal itu tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Menurutnya, hadis tersebut mengajarkan bahwa setiap tindakan harus dilandasi niat yang baik, disertai pemahaman yang benar agar menghasilkan manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.
Ustadz Asep juga mengingatkan hadis Rasulullah SAW: “Orang yang penyayang akan disayangi oleh Allah Yang Maha Penyayang. Sayangilah yang ada di bumi, niscaya yang di langit akan menyayangi kalian.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Ia menjelaskan bahwa membantu sesama merupakan akhlak mulia, namun tetap harus dilakukan dengan kebijaksanaan agar tidak menimbulkan mudarat bagi diri sendiri maupun orang lain.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh nasihat yang diterima, melainkan oleh cara seseorang memahami makna di balik nasihat tersebut. Cara berpikir yang bijaksana, disertai ilmu dan ketakwaan, dapat mengubah sebuah pesan sederhana menjadi jalan menuju keberkahan.
“Nasihat yang sama bisa menjadi batas bagi seseorang, tetapi juga bisa menjadi lompatan menuju kesuksesan bagi orang lain. Kuncinya adalah ilmu, hikmah, dan ketepatan dalam mengambil keputusan,” tutup Ustadz Asep Syahrudin, S.Pd.I.

















Komentar