FAKTAHUKUMNEWS, Jakarta — Momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi kesempatan untuk merefleksikan cara masyarakat memandang kepemimpinan.
Ustadz Asep Syahrudin, S.Pd.I., ulama muda dan pendidik agama Islam asal Sepatan Timur, Kabupaten Tangerang, mengajak masyarakat bersikap dewasa, objektif, dan proporsional dalam menilai pemimpin.
Menurutnya, setiap pemimpin memiliki kelebihan, kekurangan, karakter, serta tantangan berbeda. Karena itu, masyarakat tidak seharusnya menuntut seorang pemimpin tampil sempurna.
“Gus Dur dikenal sederhana, Pak Jokowi tampil merakyat, Pak Habibie dikenal cerdas, Pak Soeharto tegas, dan Pak SBY tenang serta berwibawa. Namun, masing-masing tetap menghadapi kritik dan dinamika politik. Artinya, tidak ada pemimpin yang sepenuhnya disukai semua orang,” ujar Ustadz Asep. Seinin(17/8/2026)
Ia menilai kritik merupakan bagian penting dalam demokrasi. Namun, kritik hendaknya disampaikan berdasarkan fakta, dengan etika dan disertai solusi nyata.
“Presiden Prabowo Subianto maupun pemimpin lainnya tentu tidak terlepas dari kritik. Yang terpenting, perbedaan pandangan jangan sampai menghilangkan persaudaraan. Kalau ada yang kurang baik, mari diperbaiki bersama. Kalau ada yang baik, mari didukung demi kepentingan bangsa,” tegasnya.
Ustadz Asep juga mengingatkan masyarakat pada pesan QS. Al-Hujurat ayat 13 tentang keberagaman manusia agar saling mengenal dan menghormati. Menurutnya, perbedaan pilihan, pandangan, maupun latar belakang seharusnya menjadi kekuatan untuk membangun persatuan.
Ia mengajak masyarakat menjadikan HUT RI ke-81 sebagai momentum memperkuat persaudaraan, menjaga persatuan, serta menumbuhkan kecintaan terhadap Indonesia.
“Jangan mencari pemimpin yang sempurna, karena manusia tidak ada yang sempurna. Mari berbeda dengan bijak, mengkritik dengan santun, dan membangun dengan solusi,” pungkasnya.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81. 🇮🇩
















Komentar