oleh

Ustad Ma’mun Al Muroddi: Sumpah Pemuda dalam Perspektif Pesantren Salafiyah

banner 468x60

FAKTAHUKUMNEWS, Banten — Ustad Ma’mun Al Muroddi selaku pengasuh pondok pesantren salafiyah atau kobong mengajak masyarakat memaknai Hari Sumpah Pemuda melalui perspektif fikih kebangsaan dan nilai-nilai spiritual Islam. Rabu (28/10/2026)

Menurutnya, tiga ikrar Sumpah Pemuda, yakni satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan, memiliki keterkaitan dengan ajaran Islam tentang cinta tanah air, persaudaraan, serta kemaslahatan bersama.

banner 336x280

Dalam tradisi pesantren salafiyah, cinta tanah air dipahami sebagai tanggung jawab menjaga tempat umat menjalankan ibadah dan kehidupan bermasyarakat. Semangat ini kerap dikaitkan dengan ungkapan hubbul wathan minal iman, yang populer di kalangan pesantren.

Ikrar satu bangsa juga mencerminkan pentingnya ukhuwah wathaniyah atau persaudaraan kebangsaan. Nilai tersebut sejalan dengan pesan Al-Qur’an dalam QS. Ali Imran ayat 103 tentang pentingnya berpegang teguh dan tidak bercerai-berai.

Sementara itu, bahasa Indonesia dipandang sebagai sarana pemersatu masyarakat. Tradisi pesantren tetap dapat melestarikan bahasa daerah, termasuk penggunaan aksara Pegon serta bahasa Jawa, Sunda, dan Jaseng dalam pembelajaran kitab kuning.

Ustad Ma’mun menilai semangat kebangsaan tersebut memiliki hubungan historis dengan perjuangan kaum santri, termasuk Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 yang menyerukan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Baginya, Sumpah Pemuda dan perjuangan santri menjadi pengingat bahwa nilai keislaman, persatuan, dan nasionalisme dapat berjalan beriringan demi menjaga keutuhan bangsa.

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *