FaktaHukumNews, Indramayu – Butuh bantuan, Siti Badriah adalah seorang pekerja migran asal Indonesia (PMI), berangkat pada Maret 2024 ke Taiwan, baru bekerja kurang lebih 12 bulan dan sejak Maret 2025 lalu mengalami sakit dan kini masih terbaring di negeri orang.
Siti Badriah merupakan seorang pejuang keluarga yang tinggal di RT.01/RW.01, Desa Jangga, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.
Pihak keluarga merasa sedih, kalut serta bingung dengan kondisi Siti Badriah yang di kabarkan sakit dan di rawat di negeri orang dengan biaya yang tidak sedikit dan juga pihak keluarga tanpa ada yang bisa mendampinginya karena faktor jarak dan biaya.
Dalam hal ini, Sarjoni suami dari Siti Badriah berharap agar istrinya dapat segera pulang ke Indramayu untuk mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit terdekat, sehingga dalam perawatannya dapat didampingi langsung oleh keluarga.
“Kami sangat berharap Siti Badriah bisa dirawat di rumah sakit yang ada di Indonesia, biar kami dari keluarga bisa mendampingi selama proses pengobatan,” ungkap Sarjoni, pada Jumat (6/6/2025).
Dia mengatakan bahwa, saat ini Siti Badriah sangat membutuhkan perhatian dan dukungan moral dari keluarga. “Tapi, hal ini sangat sulit dilakukan, karena Siti Badriah dirawat di luar negeri tanpa ada pendamping keluarga,” ujarnya.
“Sungguh, kami kebingungan harus berbuat apa dan bagaimana agar Siti Badriah, istri saya dapat pulang ke Indonesia agar dalam perawatannya kami bisa mendampinginya,” ucap Sarjoni.
Siti Badriah, berangkat ke Taiwan sebagai pekerja migran pada Maret 2024, kurang lebih setahun kemudian atau tepatnya pada Maret 2025 lalu, mulai mengalami sakit berat.
Menurut informasi dari dokter yang menangani, Siti kini menderita komplikasi penyakit serius infeksi otak, tumor dan gangguan pada organ limpa.
Padahal, sebelum keberangkatan, Siti telah menjalani empat kali medical check-up dua di Indonesia dan dua di Taiwan dengan hasil dinyatakan sehat dan layak terbang.
“Kami sangat kaget ketika mendengar kabar kondisi Siti, sebab selama proses pemberangkatan, tidak ada indikasi penyakit apa pun. Bahkan medical check-up terakhir pun menyatakan ia fit,” paparnya.
Berdasarkan penjelasan medis yang diterima keluarga, gangguan di organ limpa menyebabkan sistem imun tubuh Siti melemah, hingga infeksi menyebar ke berbagai organ vital. Limpa, yang seharusnya menyaring virus dan menjaga daya tahan tubuh, tidak berfungsi optimal, sehingga penyakit berkembang cepat dan membahayakan nyawa.
Selama menjalani perawatan di Taiwan, Siti sempat tak sadar di ruang rawat inap selama 18 hari, Sarjoni bahkan harus menjual sepeda motor satu-satunya demi menutupi biaya pendampingan yang cukup tinggi, yaitu sekitar Rp500.000 per hari.
“Kami sudah kirimkan Rp8 juta untuk biaya penjagaan lewat agensi,” ungkapnya lirih.
Namun, besarnya biaya dan jauhnya jarak membuat keluarga merasa sangat terbatas dalam memberikan dukungan secara langsung.
Sarjoni mengaku bahwa keberadaan keluarga di sisi, Istrinya sangat penting, bukan hanya untuk mengurus kebutuhan medis, tetapi juga untuk memberikan semangat dan kekuatan batin bagi istrinya.
“Kalau tidak ada keluarga yang mendampingi, semangat istri saya juga pasti menurun. Dukungan dari keluarga sangat penting untuk proses penyembuhannya,” ucapnya.
Dalam kesempatan ini, Sarjoni pun mengajukan permohonan terbuka kepada pihak pemerintah, terutama kepada Bupati Indramayu, Pak Lucky Hakim, agar dapat memfasilitasi pemulangan istrinya ke Indonesia.
Ia berharap adanya langkah konkret dari pemerintah daerah maupun pusat agar Siti bisa segera mendapatkan perawatan lebih lanjut di Tanah Air.
“Kami mohon bantuan dari Pak Bupati dan pemerintah agar Siti bisa dipulangkan. Ini soal nyawa. Kami ingin bisa mendampingi istri saya secara langsung selama proses pengobatan,” katanya.
Ia juga berharap bantuan dari pemerintah melalui BP2MI, Kementerian Luar Negeri dan pihak Kedutaan Indonesia di Taiwan bisa bergerak cepat untuk memulangkan istrinya.












Komentar